Selasa, 07 Agustus 2018

Penuh Keluh : Kesabaran, Kepanasan, Perempatan

Dimas Maulana R | 7 Agustus 2018
“Bangsat!” Tinn..tiiinn. Ocehan klakson dimana-mana, ditengah kerumunan manusia yang penuh peluh siang hari. Bukankah lampu hijau baru saja menyala? Belum ada 2 detik aku lihat. Aku tengok sebelah kiri, seorang pria berkemeja biru muda yang telah lusuh. Sebatang rokok yang tinggal setengah dipegangnya dengan tangan kanan. Tangan kirinya beberapa kali memencet klakson yang berada ditengah lingkaran kemudinya. Mulutnya pun sesekali berucap kata-kata yang kurang pantas didengar oleh seorang seorang anak lelaki yang membonceng motor ibunya didepanku. Untung saja anak lelaki berseragam putih merah itu berada didepanku, bukan diposisiku. Oh, tidak, anak lelaki itu menoleh, ke arah kiriku. Ah, sepertinya dia mendengarnya juga. Kasian. Andai aku berani menegur pria itu untuk lebih bersabar, mungkin anak lelaki itu tidak akan mendapatkan kosa kata baru itu. Atau jangan-jangan anak lelaki itu sudah tahu kosa kata itu? Entahlah, yang jelas aku hanya diam saja saat itu. Bukan! Bukannya aku tidak berani, hanya saja aku tidak suka terlibat koflik. Toh, tidak ada untungnya juga buatku. Ya.. walaupun ada untungnya juga buat anak lelaki itu. Mungkin menurut Anda saya egois. Ya, itu benar, menurut Anda. Pada dasarnya setiap manusia tidak ingin mengalami kerugian. Meskipun ada yang mau melakukan hal yang merugikan, pastinya ia juga mengharapkan keuntungan yang lainnya. Iya kan? Keuntungan bagi yang lain misalnya. Hehehe...


Sudahlah kawan, janganlah membahas diriku. Banyak hal-hal yang tidak baik dalam diriku. Mungkin Anda akan banyak mengkritisku, melontarkan pertanyaan atau ungkapan-ungkapan yang akan membuatku bingung menjawabnya jika Anda tahu hal tidak baik dari diriku. Ya, Anda jelas akan mempermalukanku. Hahaha. Ya Tuhan, aku terlalu berfikiran negaif terhadap Anda. Maafkan aku. Bagaimana kalau aku menceritakan betapa panasnya jalanan kota ini saja? Ah, aku jadi ingat celotehan kawanku yang sangat khas, “Nek panas yo ngeyup! Opo didamoni ben gek ndang adem.” Ada-ada saja. Menurutku, lebih baik aku teruskan perjalananku pulang dan meninggalkan pria yang terjebak kemacetan traffict light itu. Tunggu dulu, lampu hijau sudah menyala lebih dari 13 detik tapi kendaraan didepanku belum juga berjalan. Sedikit aku berjinjit dan mendongakkan kepalaku untuk melihat ada apa didepan. Beberapa polisi menyetop kendaraan dari arahku, atau mungkin istilahnya “mengatur lalulintas”? terserah saja. “Oalah, pejabat lewat toh. Haduhh, tambah keringetan ini.” Gumamku sangat pelan. Sudah pasti, anak didepanku itu tidak akan mendengar gumamanku barusan. Aku tidak ingin mengajari anak itu mengeluh, ya.. walaupun dalam hidup itu kadang harus dibumbui dengan mengeluh juga. 

Satu, dua, sepuluh, puluhan, bahkan mungkin ratusan motor melintas dari arah barat ke selatan menerobos lampu yang menyala merah. Loh, kok, bukan rombongan mobil? Mana ada pejabat gak naik mobil, malah naik motor di siang panas begini, yang banyak polusi dan umpatan keluhan. Sepertinya mereka rombongan yang sedang merayakan sesuatu dengan membleyer-bleyerkan suara knalpot blombongan dan mengibas-ngibaskan bendera kesana kemari. Aku baru ingat, sekarang kan sedang ada “pesta demokrasi”. Ya sudah, cuma ada satu pilihan buatku, bersabar. Memang mau bagaimana lagi? Mau protes ke pak polisi yang menyetop didepan? Bisa diajak ke pos polisi aku. Mau protes ke rombongan yang menerobos lampu merah? Bisa mati konyol aku. Mau mengumpat ke pria disamping kiriku? Atau mau memberitahu anak lelaki didepanku untuk menutup telinganya dan jangan melihat kedepan? Kalau hanya ada empat pilihan itu, tentu saja aku memilih pilihan terakhir. Untung saja kala itu tidak ada yang memberikan ke empat pilihan tersebut. Seperti yang aku bilang tadi, aku harus bersabar, dan mendoakan masyarakat negara kita menjadi lebih baik, mungkin. Haha.. sudahlah jangan dibahas. Semoga Tuhan mengabulkan doaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar